Insomnia kumat.. apa yg harus saya lakukan? arrrggh.. ga ada ide.. jadilah saya membuka arsip – arsip yang ngga keurus.Eh taunya,ada cerpen saya yang isinya kok “lagi menjadi pembicaraan hangat di dalam hati saya dengan logika saya”. Enggak pake panjang lebar,tanpa revisi banyak (saya tahu masih banyak kekurangannya), saya publish deh..Oia, bahkan judulnya pun baru saya karang pas posting disini…
Jumat Terbaik
Jum’at, 18 April 2008
10:51:18
Wanita itu membalikkan tubuhnya. Siang itu gerimis. Tapi matahari pun ambil bagian dalam memberikan teriknya.
Hampir lima belas menit wanita itu terdiam setelah membalikkan tubuhnya. Tak satu langkah pun dilakukannya. Kerabat di dekatnya tak henti – hentinya mengajaknya untuk meninggalkan pemakaman. Namun, wanita itu tidak memberikan bahasa tubuh apapun.
Dan air langit pun tak turun lagi.
“Kamu harus tegar dan kuat. Kalau kamu tak ikhlas, langkahnya hingga ke sisi Tuhan pun sulit, nak” Ibu dari wanita itu meyakinkannya dengan usapan tangan di punggung belakang.
Wanita itu tidak menitihkan air mata sedikit pun. Namun, wajah tanpa ekspresinya tak memberi arti keikhlasan. Matanya kosong dan tarikan nafasnya lemah. Pikirannya melayang ke kejadian sebelum – sebelumnya.
**
Jum’at, 18 April 2008
02:18:20
“Dua belas jam, Ra… Aku nunggu kamu! Dan kamu? Kamu terlihat bahagia membagi pelukan dengan Anton! Gila kamu! Dia sahabatku!”
“Dengar dulu penjelasanku, Han…” Nada Nara melemah, terdengar seperti menahan emosi.
“Iya, apa penjelasanmu?” Kali ini, Handi menatap Nara dengan tatapan kecewa. Sepertinya, marah dan cemburu Handi telah bertransformasi menjadi kecewa.
Nara menarik nafas dan mulai menjelaskan alasannya. Setiap akhir kalimatnya selalu diakhiri dengan menarik nafas panjang. Adu mulut pun terjadi.
“Han… kamu maafin aku kan? Dan tidak akan menganggap aku selingkuhkan?” Nara mengiba.
“Entahlah, Ra…Biarkan aku memikirkan masalah ini di rumah. Aku pulang dulu.” Handi terlihat malas menanggapi ucapan Nara.
“Han… “
“Aku sudah nggak kuat memikirkannya Ra… Sekarang aku penuh dengan rasa emosi. Kalau kamu paksa aku sekarang berpikir untuk maafin kamu, yang ada aku emosi.”
“Tapi, besok kita akan baik – baik saja kan?”
“Ra..Please! Don’t push me at all.” Handi pergi meninggalkan Nara. Jam dinding sepertinya mengambil alih perhatian dari sunyinya keadaan.
Nara membiarkan Handi pergi tanpa memaksa. Keningnya mengkerut. Kakinya melangkah untuk melihat ke arah luar jendela. Memastikan Handi masuk ke dalam mobilnya.
Handi berjalan menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Kepalan tangannya terlihat menunjukkan emosinya yang besar. Rahang dagunya semakin terlihat lancip diantara remangnya cahaya.
Tarikan nafas sepertinya tak terdengar sama sekali hingga memasuki mobil. Tak sampai semenit, mobil Handi berjalan dengan cepat dan meninggalkan parkiran kantor Nara.
Nara bergegas mengambil ponselnya dan sepertinya langsung memencet last dialled.
“Anton…kamu nggak apa – apakan?” Tanya Nara dengan nada manja. Selang beberapa menit tawa pun memedar di seluruh ruang kantor Nara.
**
Jum’at, 18 April 2008
02:40:29
Tangan Handi tetap di stir dan pegangan gigi mobil. Tatapannya tetap lurus di depan, menghadap jalan. Ponselnya berdering. Namun, tak dihiraukannya. Berkali – kali ponselnya berdering tetap tidak dihiraukannya.
“Tau tuh Handi..Udah gila kali yah dia. Sudahlah…paling besok pagi, kita sudah baikan. Seperti biasanya. Handi itu gampang dibohongin kok, Ton… Tenang aja. Tapi, kalau seandainya besok aku nggak bisa baikan sama Handi, yah sudahlah…nggak apa – apa juga. Yang pentingkan aku ama kamu…” Suara Nara semakin terdengar memanja. Percakapan pun berlanjut menandakan semuanya baik – baik saja.
Lampu merah diterobos oleh Handi dalam guyuran hujan yang deras. Kecepatan mobilnya sudah diatas ketidakwajaran. Tiba – tiba, Handi harus mengerem mobilnya mendadak. Lampu merah di perbatasan rel kereta api menyala dan palang menutup dengan cepat. Hentak memaki pun terlontar dari mulutnya. Ponselnya terus berdering.
“Halo Greg. Gue lagi ngejar Anton nih. Ntar gue telf lo.” Ponsel pun dimatiin.
Namun, tak selang beberapa detik, Handi mengambil ponselnya kembali lalu menghubungi Greg. Dan Nara?
“Ya udah kita nggak usah ketemuan lagi malam ini. Hehehe… daripada ketauan sama Handi lagi. Nggak enak ke gap kayak tadi. Untung kamu buru – buru kabur. Jadi, nggak pakai acara berantem. Iya, hati – hati yah kamu. Aku juga sayang kamu… (hening beberapa detik disusul suara plastik yang diremas –remas tak jelas)”
“Anton, kamu ngapain sih? masih dengerin aku nggak? Anton…!!!” Tak ada jawaban dari Anton. Perasaan Nara mendadak tak karuan. Nara berusaha menghubungi Anton berkali – kali tapi ponselnya tak ada jawaban.
**
Jum’at, 18 April 2008
02:53:29
Nara bergegas keluar kantor. Menunggu taksi yang lewat. Tak sampai 15 menit menunggu, hujan deras mengguyur tanah. Agak susah menemukan taksi di tengah malam ini di depan kantor Nara.
“Han… Gue bisa jelasin sama lo semuanya!!” Akhir kalimat yang terlontar dari mulut Anton menjadi kelanjutan dari emosi Handi. Secara bertubi – tubi pukulan demi pukulan tepat mengenai Anton.
Anton berusaha untuk menghindar dari pukulan Handi. Rasanya tubuhnya sudah kehabisan tenaga namun setiap kali pukulan Handi mengarah ke Anton, badannya seperti mempunyai kekuatan. Kakinya melangkah perlahan – lahan lalu berlari ke bawah menuju restoran miliknya. Semua pengunjung ketakutan melihat kejadian ini. Mereka berhamburan keluar restoran sambil berteriak.
“Handi…please…kita bisa selesaikan masalah ini baik – baik.” Teriaknya sambil mengarahkan pisau yang diambil dari salah satu meja.
Handi tidak mengucapkan kalimat apapun. Tangannya pun tak mau kalah mengambil botol minuman keras yang terbuat dari kaca lalu berjalan sambil memecahkan botol tersebut seperti di film – film action. Anton lalu beranjak keluar dari restorannya. Tak ada satu pun yang membantu melerai perkelahian ini. Bahkan, satpam dan preman yang sering menjagai restoran Anton pun tak berani menghampiri perintah Anton untuk membantu melerai.
Nara akhirnya mendapatkan taksi. Tak lama berselang, ponselnya berbunyi. Nama Greg muncul di layar ponsel. Pembicaraan menjadi serius.
“Handi mau membunuh Anton, Ra…” Nada suara Greg terdengar semakin tinggi.
“Pengkhianat lo!!” Teriak Handi.
**
Jum’at, 18 April 2008
03:21:09
“Prang!” Botol minuman keras yang dipegang oleh Handi akhirnya mengenai kepalanya sendiri. Anton menahan dirinya dari serangan Handi dengan mengambil botolnya. Handi melawannya dan Anton dengan spontan mengarahkan botol minuman keras tersebut ke kepala Handi. Dan seperti memang nasib, pisau yang dipegang pun mengenai leher Handi.
Nara turun dari taksi dengan basah kuyup. Air matanya tak akan terlihat karena air hujan telah memenuhi wajahnya. Dalam pikirannya kini hanya ada potongan – potongan kejadian – kejadian sebelumnya. Badannya seperti habis tersengat listrik. Lemas.
Darah yang keluar dari kepala Handi pun ikut mengalir seiring arus air hujan yang jatuh di tanah. Semua pengunjung restoran milik Anton terlihat tegang. Semua seperti mematung. Sebagian dari pengunjung wanita menutup mata dan mulutnya. Seorang ibu langsung memeluk anaknya. Perkelahian yang hanya terjadi kurang dari setengah jam itu membuat akhir yang tak akan terlupakan bagi semuanya. Menciptakan trauma tersendiri dan mengisi ruang kepala.
Greg berlari ke arah Nara. Mereka berdua menghampiri Handi yang sudah terkapar tak berdaya. Nara terduduk di samping Handi. Memastikan bahwa nafas itu masih ada.
Selang beberapa menit, mobil polisi sudah datang ke tempat mereka berkumpul. Nara tak henti – hentinya menangis.
***
“Hayo Nak..kita pulang.” Wanita itu mengikuti ajakan ibunya. Kepalanya rasanya masih ingin menengok ke belakang punggungnya, pemakaman terakhir orang yang telah dikhianatinya, Handi. Niatnya urung. Kakinya terus melangkah.
Tak lama setelah meninggalkan pemakaman, wanita itu mendapatkan pesan singkat. Yang janggal adalah pesan singkat itu dikirim oleh Hpnya Handi yang jarang aktif.
Mudah – mudahan, Jumat ini adalah Jumat terbaik untukku.
Kamis dimana aku akan mengetahui bahwa cinta itu ada.
Sender:
My Handi 2
+6281……
Sent:
10:51:18
19 April 2008
Pikiran Nara kembali ke dalam potongan – potongan masa lalu. Seharusnya, Jumat itu adalah hari dimana Handi ingin mengajaknya untuk merayakan hari ulang tahun Nara yang tertunda. Jumat itu pada akhirnya memberi kesaksian pada Handi bahwa cinta itu tidak ada pada Nara.
Indah Putri
koleksi 2008
——————————————————————————————-
Dan kesimpulan saya adalah…. Syukurilah suatu hubungan. Maka, apapun yang kurang dengan pasangan kita tidak akan menjadi permasalahan dan jika merasa sudah tidak sehat (memang karena tidak sehat, bukan karena mengada-ada, selesaikan secara baik – baik. Bukan dengan selingkuh. Itu esensi dari Cinta. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai.
——————————————————————————————-